Yuk mampir ke Kota Angin


NGANJUK IJO ROYO-ROYO

Wisata


Sejarah


Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa, disekitar tahun 929 M, di Nganjuk, tepatnya di Desa Candirejo Kecamatan Loceret, telah terjadi pertempuran hebat antara prajurit Mpu Sindok, yang pada waktu itu bergelar Mahamantri I Hino (Panglima Perang) melawan bala tentara Kerajaan Melayu/Sriwijaya.

Sebelumnya pada setiap pertempuran, mulai dari pesisir Jawa sebelah barat hingga Jawa Tengah kemenangan senantiasa ada dipihak bala tentara Melayu. Kemudian pada pertempuran berikutnya, di daerah Nganjuk, bala prajurit Mpu Sindok memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Kemenangan ini tidak lain karena Mpu Sindok mendapat dukungan penuh dari rakyat desa-desa sekitarnya. Berkat keberhasilan dalam pertempuran tersebut, Mpu Sindok dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isanawikrama Dharmatunggadewa.

Kurang lebih delapan tahun kemudian, Sri Maharaja Mpu Sindok tergugah hatinya untuk mendirikan sebuah tugu kemenangan atau Jayastamba dan sebuah Candi atau Jayamerta. Dan kepada masyarakat desa sekitar candi, karena jasa-jasanya didalam membantu pertempuran, oleh Mpu Sindok diberi hadiah sebagai desa perdikan atau desa bebas pajak dengan status sima swatantra "ANJUK LADANG". Anjuk berarti tinggi, atau dalam arti simbolis adalah mendapat kemenangan yang gilang gemilang. Ladang berarti tanah atau daratan. Sejalan dengan perkembangan zaman kemudian berkembang menjadi daerah yang lebih luas dan tidak hanya sekedar sebagai sebuah desa.

Sedangkan perubahan kata "ANJUK" menjadi Nganjuk, karena proses bahasa, atau merupakan hasil proses perubahan morfologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena gejala usia tua dan gejala informalisasi, disamping adanya kebiasaan menambah konsonan sengau "NG" (nasalering) pada lingga kata yang diawali dengan suara vokal, yang menunjukkan tempat. Hal demikian inilah yang merubah kata "ANJUK" menjadi "NGANJUK".

Berdasarkan penelitian L.C Damais, angka tahun yang tertera pada prasasti Candi Lor adalah tanggal 12 bulan Caitra tahun 859 Caka atau bertepatan dengan tanggal 10 April 937 M. Kalimat yang menunjuk angka tahun tersebut berbunyi "SWASTI QAKAWARSATITA 859 CAITRAMASA TITHI DWADASIKRSNAPAKSA". Yang jika diterjemahkan, kurang lebih berbunyi "Selamat Tahun Saka telah berjalan 859 Tahun Pertengahan pertama bulan Caitra tanggal 12". Berdasarkan kajian dan analisis sejarah inilah, maka tanggal 10 April 937 M disepakati sebagai hari Jadi Nganjuk, selanjutnya dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor : 495 Tahun 1993 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.

Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapat dalam buku tulisan Peter Carey yang berjudul : "Orang Jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)", penerbit Pustaka Azet, Jakarta, 1986 diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah Nganjuk. Apabila dicermati peta tersebut ternyata daerah Nganjuk terbagi dalam 4 daerah yaitu Berbek, Godean, Nganjuk dan Kertosono.

Makanan


Coming Soon

Air Terjun Sedudo


Air Terjun Sedudo merupakan icon utama pariwisata Kabupaten Nganjuk. Lokasinya terletak di Gunung Wilis pada ketinggian ± 1.438 m dpl, tepatnya di Desa Ngliman, Kec. Sawahan, ± 30 km dari kota Nganjuk. Ketinggian air terjun mencapai ± 105 m, sehingga pemandangan air terjunnya terlihat begitu elok. Ditambah lagi dengan keindahan alam disekitarnya yang masih sangat alami serta kesejukan hawa pegunungan, membuat Sedudo sangat menarik untuk dikunjungi. Bagi anda yang hobi berpetualang, ada banyak air terjun dan pemandangan alam lainnya disekitar wilayah ini yang bisa anda kunjungi sekaligus memacu adrenalin anda, sementara itu, disepanjang perjalanan menuju ke kawasan ini, anda akan disuguhi panorama alam yang indah berupa aliran sungai, kebun bunga mawar, hutan dan pegunungan. Khususnya pada bulan Suro, tempat wisata ini dipadati oleh pengunjung yang meyakini mitos bahwa mandi di Air Terjun Sedudo pada bulan Suro mendatangkan berkah, keselamatan, pangkat dan awet muda.

Tutup

Air Terjun Pacoban Ngunut


Air terjun yang masih sangat alami ini berada di jalur pendakian ke puncak Gunung Wilis. ± 30 km arah tenggara Kota Nganjuk. Lokasi Air terjun ini berada tak terlalu jauh dari Objek Wisata Alam Air Merambat Roro Kuning yaitu di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.

Tutup

Air Terjun Singokromo


Air Terjun Singokromo berlokasi -/+ 500 meter dari pintu gerbang kawasan wisata Air Terjun Sedudo. Dengan ketinggian air terjun 50 meter, debit air yang sangat deras dan masih sangat alami, Objek Wisata ini memiliki pesona tersendiri jika dibandingkan dengan Air terjenun Sedudo yang berada tak jauh dari tempat ini. Untuk mencapai ke lokasi ini, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Jika memakai kendaraan roda empat, maka bisa memarkir kendaraan di tempat parkir roda empat Cemoro kandang, kemudian melanjutkan perjalanan dengan memanfaatkan ojek lokal.

Tutup

Grojogan Dhuwur Sumbermiri


Obyek wisata ini berupa sungai purba yang terbentuk dari batuan kapur, sehingga sangat eksotis dan sebagai wahana permainan air ditengah hutan. Potensi wisata alam ini berada di wilayah kec. Lengkong, ± 35 km arah timur laut kota Nganjuk. Wisata alam yang berada di wilayah administratif Kabupaten Nganjuk ini dikelola oleh BKPH Krondong, KPH Jombang .

Tutup

Embung Estu Mulyo


Potensi wisata alam yang tergolong baru ini terletak di dusun Bulurejo, desa Sawahan, kec. Sawahan . Berupa Bendung (Embung) dengan pemandangan hutan pinus disekililingnya . Oleh warga setempat dimanfaatkan juga sebagai sarana rekreasi olahraga memancing. Bisa ditempuh dengan roda dua maupun roda 4.

Tutup

Gunung Wilis


Pegunungan Wilis membentang di bagian selatan wilayah kab. Nganjuk, menyembunyikan keindahan alam yang luar biasa dengan panorama puluhan air terjun yang masih alami. Gunung Wilis juga dipercaya sangat sakral karena menyimpan banyak situs, candi dan benda purbakala lainnya. Gunung Wilis memiliki tiga puncak utama yaitu Puncak Wilis, Liman dan Limas. Puncak Limas (2300mdpl) jalur pendakian dari desa Bajulan, Nganjuk atau Goliman, Kediri, Puncak Ngiman (2535mdpl) jalur pendakian via Sedudo, Nganjuk atau Madiun atau Ponorogo dan Puncak Wilis (2563mdpl) jalur pendakian via Besuki, Kediri atau Tulung Agung atau Trenggalek. Bagi para pendaki, mendaki Gunung Wilis memberikan pengalaman yang sangat menarik. Keadaan alam di kawasan Gunung Wilis masih terbilang perawan, disini ada beberapa jenis flora yang dilindungi seperti edelweiss berbagai warna, anggrek, beberapa jenis fauna liar seperti kumpulan primata, spesies burung, dan beberapa hewan liar langka seperti Kijang bertandung panjang. Menurut Peta OTF Fist Editions AMS 1 (tahun 1942), Puncak Ngliman yang terletak 2.563 meter dari permukaan laut, secara de facto merupakan perbatasan dari empat (4) kabupaten: Kediri, Nganjuk, Ponorogo, dan Tulungagung. Di wilayah Nganjuk sendiri ada beberapa Gunung yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Wilis, diantaranya : G. Jogopogo (2220 mdpl), G. Wilis Wilboz (2330 mdpl), G. Tapan sewelas (1283 mdpl), G. Mloloseketip (1270 mdpl), G. Lekerasu (1290 mdpl), dan G. Cumpleng (1375 mdpl).

Tutup